RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Tertangkapnya F di Kota Palembang Sumatera Selatan, menjadi prestasi tersendiri bagi pihak Kepolisian, mengingat tersangka merupakan pembunuh yang sadis yang nekat membunuh hanya karena dendam terhadap korban yakni bidan Aisyah Susilawati (50) warga Kota Arga Makmur Bengkulu Utara.
Bagaimana kronologi penangkapannya, Kapolres BU AKBP Andhika Vishnu, S.Ik melalui Kasat Reskrim AKP Jufri, S.Ik menerangkan. Tersangka F (26) yang merupakan pekerja swasta, sejak kejadian usai melakukan aksi pembunuhannya sempat bersembunyi di beberapa tempat, namun akhirnya tertangkap di wilayah Sumatera Selatan.
” Selama kita melakukan pencarian dan pengungkapan, tersangka ini sudah bersembunyi di beberapa wilayah, namun petualangannya berakhir di wilayah kota Palembang Sumatera Selatan,” ungkap Kasat.
Diceritakan Kasat, awal mula terciumnya keberadaan tersangka ini, berawal saat tersangka yang sempat bekerja selama 1 bulan sebagai supir mobil pickup milik pamannya mengangkut sawit. Namun kebodohan tersangka, ia justru membawa kabur mobil tersebut ke Kota Palembang.
” Tersangka ini, sempat bekerja dengan pamannya selama misi pelariannya dari aksi pembunuhannya. Namun, justru ia berulah dan akhirnya terciumlah aksinya setelah pamannya melaporkan aksi tersangka ini kepada pihak Kepolisian,” bebernya.
Bermodalkan laporan itulah, didapati identitas pelaku yang dimaksud atas dasar laporan paman tersangka tersebut, merupakan tersangka pembunuhan sadis. Pihak Kepolisian Mapolda Bengkulu menurunkan 4 personil tim Opsnal Subdit Jatanras Polda Bengkulu, melakukan interogasi dengan korban (Paman tersangka,red)) di Mapolsek Talo, dari hasil penyelidikan didapati informasi bahwa tersangka berada di Sumatra Selatan. Selanjutnya, tim opsnal bersama 2 personil Opsnal Polres Bengkulu Utara, langsung melakukan pengejaran ke kota Palembang, selama 3 hari di palembang tim Opsnal Polda Bengkulu, berkoordinasi dengan pihak Jatanras Palembang, yang akhirnya mencium keberadaan tersangka.

” Dengan hasil jerih payah yang bekerjasama dengan pihak kepolisian Palembang, tersangka berhasil dibekuk bersama dengan Barang Bukti kendaraan mobil Pickup milik pamannya yang dibawa kabur, yang saat itu tersangka dibekuk di Villa Melayu Indah,” jelas Kasat.
Dalam aksi penangkapan, lanjut Kasat menceritakan lebih jauh. Tersangka sempat berupaya melarikan diri, dengan melakukan perlawanan kepada petugas. Sehingga petugas terpaksa melumpuhkannya dengan timah panas.
” Saat ini tersangka dan barang bukti, masih berada di Provinsi Sumatra Selatan dan akan segera dibawa ke Polda Bengkulu,” ujarnya.
Berdasarkan hasil pengembangan dan introgasi, diketahuilah motif tersangka menghabisi nyawa ibunda salah satu personil Mapolda Bengkulu tersebut, lantaran dendam dengan korban karena tersangka pernah dilaporkan kepada pihak Kepolisian, terkait aksi pencurian yang pernah dilakukan tersangka, dirumah korban.
” Motifnya dendam, sakit hati karena pernah dipenjarakan atas laporan korban terkait aksi pencurian yang dilakukan tersangka,” lanjut Kasat.
Tersangka mengaku kepada penyidik, bagaimana aksi pembunuhan terjadi, berawal saat tersangka masuk melalui pintu belakang dan langsung bersembunyi di balik tangga sambil menunggu kedatangan korban. Ketika korban pulang, tersangka langsung menghabisi korban dengan menggunakan tongkat yang berada di rumah korban. Setelah melihat korbannya tidak berdaya lagi, tersangka langsung melarikan diri menggunakan sepeda motor korban ke Kota Bengkulu dengan membawa 3 (tiga) unit ponsel milik korban merk Asus, Samsung dan Nokia. Setibanya di kota Bengkulu tepatnya di depan Universitas Bengkulu (Unib), motor korban ditinggalkan disana dan dirinya melarikan diri ke Provinsi Jambi dengan menggunakan travel.
” Selama di Jambi, rupanya tersangka mengalami kesulitan keuangan, yang sempat menjual ponsel hasil jarahannya terhadap korban bidan Aisyah Susilawati. Namun sayangnya, hanya bertahan 5 hari di Provinsi tersebut, setelah itu ia memutuskan kembali lagi ke Provinsi Bengkulu dan bersembunyi di wilayah Bengkulu Selatan, tepatnya di Kota Manna,” sambung Kasat.
Dikota Manna ini juga, tersangka mengalami kesulitan keuangan sehingga kembali menjual ponsel. Untuk biaya berangkat menuju kediaman pamannya, untuk meminta perlindungan bekerja, sambil bersembunyi dari kejaran aparat.
” Beruntungnya, pamannya tersebut tidak mengetahui apa motif keponakannya tersebut, tiba-tiba datang kerumahnya dan meminta pekerjaan. Lantaran ia sangat membutuhkan tenaga, akhirnya korban di percaya memegang satu unit mobil. Namun rupanya tersangka ini ibarat pepatah ” Kacang Lupa Kulit” tidak tahu terima kasih, sudah diberi pekerjaan justru melarikan mobil milik pamannya,” demikian Kasat.
Laporan : Effendy

